First Cerpen : Gak Bisa Sembunyi Dari Gue
Penulis : Ahmad Juhaendi
Editor : Ahmad Juhaendi
Cerita ini kisah nyata kehidupanku sendiri. Semua nama hanya nama samaran. Takut ada yang sakit hati .
Gak Bisa Sembunyi Dari Gue
Gue sendiri tak pernah berpikir sejauh itu, telak saja gue kaget ketika adi berbicara seperti itu kepadaku dengan. Adi yang baru saja pulang dari Bandung dengan tujuan untuk menjenguk saudaranya yang sakit. Sedangkan gue juga baru saja balik dari Pandeglang. Gue sendiri masih gak habis pikir, kenapa Icha bisa kayak gitu ama gue. Apa pikiran gue mungkin yang terlalu picik dengan sedikit ego gue yang terus meningkat.
Semua berawal dengan baliknya Icha ke Kalideres untuk keperluan mendadak, karena ibunya sakit dan dia bilang dirawat dirumah sakit. Ya gue sih fine – fine aja, ya kalo memang orang tuanya sakit atak apa, tapi karena tuntutan pekerjaan di kantor gue yang tanggal sibuknya itu ditanggal 20, gue harus rela berpusing – pusing ria dan menyibukan diri dengan permintaan penambahan defosit. Bisa dimaklumlah, karena perusahaan yang gue gandrungi ini bekerja sama dengan PLN dan Bank Bukopin.
Sempat kesal dengan izin di tanggal 20, ditambah lagi dengan schedule yang gue dan Icha rencanain untuk di GLP sendiri selalu gagal. Sebelumnya kami selalu jalan bareng berempat , Gue, Hendra Dendy dan Icha. Entah kenapa akhir – akhir ini Adi malah terkesan menghindar dari kami. Sebenarnya gue pengen tau kenapa alesan dia bisa kaya gitu. Sete;lah gue berbicara empat mata dengan Hendra ternyata sedikit tidak menyukai sikap Dendy dan Icha yang terkesan menyembunyikan sesuatu dari kami. Adi muali blak – balakan ngomong ke gue mengenai Icha dan Dendy, “Lu pikir deh Zoe, mana mungkin seseorang mau nganterin cewek malem – malem, jauh lagi sampe ditilang polisi juga. Ya mungkin itu dari rasa sukanya dia sama Icha. Tapi dia belum mau menunjukannya dihadapan kita zoe”, ucap adi dengan nada sedikit kesal. “Ya mungkin juga sih, tapi jujur di, gue gak pernah kepikiran sampe ke arah situ”, kepala gue sedikit mengangguk pertanda gue memahami apa yang adi katakan.
Jujur gue sendiri sedikit kesal terlebih ketika tau Icha dan Dendy balik ke bekasi barengan satu mobil. Awalnya ketika gue berada di menes pandeglang, mereka ngajakin gue untuk makan – makan bareng. Gue berpikir ulang dengan kondisi tubuh gue yang masih kurang sehat sehabis balik dari bekasi. Telpon dan sms mereka gak gue peduliin meskipun itu berulang – ulang. Karena memang jadwal gue dimenes tiga hari itu untuk bertemu dengan beberapa teman gue di Organisasi. Ditambah lagi gue sudah mengatur jadwal gue sedemikian rupa ketika berada di menes nanti. Terlebih ada kabar salah satu ayah dari temen gue meninggal dan ini hari keujuhnya. Gue harus dateng lah.
Handphone mati seakan tak bernyawa, terdiam membisu jutek sama gue. Apa handphone bisa marah sama majikannya ??? gumam gue. Nisa belum juga sms, pada sebelumnya sudah janji mau jemput gue jam 2 untuk berkunjung kerumah duka dihari itu. Gue udah sedikit rapi dengan dandanan sedkiti cool, kaya lemari es aja ya,,.. Gue telpon itu anak, tapi gak diangkat, ya gue berpikir mungkin dia lagi dijalan. Eh ternyata bener, dari kejauhan dia udah senyum. Tak banyak buang waktu lagi, gue langsung aja ambil alih gas motor Vario milik Nisa.
Biasanya kami berlama – lama ketika berkumpul dirumah Sugandi, tetapi berbeda untuk kali ini. Kami hanya duduk 2 jam di tempatnya. Sesampainya disanapun kami langsung disuruh makan, padahal gue udah nolak berkali – kali nolak. Tapi apalah dayaku,, hehehe tapi emang jujur sih belum makan siang.
Kembali ke persoalan Icha, sebelumnya gue udah sms dia mau balik jam berapa, tadinya gue mau ngajakin bareng. Tetapi dia bilang agak sorean baliknya. Gue udah di mobil yang penuh dijejeli masa. Mobil bis tidak mengangkut penumpang yang berhenti di terminal serang. Tradisi ini selalu berlanjut ketika musim libur tiba. Dendy telpon gue, tanya gue udah balik apa belum . gue bilang sudah, ya karena memang gue sedang berada dalam mobil. Gue tanya balik, “ mau balik sama siapa ? ngeteng apa gimana ?”. dia langsung menjawab. “gue balik bareng ama om dudi, zoe sama siapa ?” gue jawab singkat “Oh”. Gue langsung saja tutup telpon itu. Icha gue sms lagi, tapi sayang dia gak ada balesan. Berkali – kali gue sms. Hingga akhirnya pas maghrib ketika gue di Tol cikupa, gue telpon dia n tanya dia balik sama siapa . “Cha pulang bareng kakak ya?”, tanyaku singkat. “Iya, kalo zoe “,,dia tanya balik. Pertanyaannya gak gue jawab, gue langsung tutup telpon itu. Rasa kesal dan capek jadi campur aduk kaya gado – gado dikasih banyak cabe lalu ditambah merica juga. Pedes minta ampun rasanya. “Gue gak diajak”, gumam gue dihati. “akh mungkin gue gak begitu berarti bagi mereka. Maka dari itu Dendy hanya ngajak Icha balik bareng”. Dari kejadian itu, gue berpikir benar juga apa kata adi. Ada yang disembunyikan dari mereka berdua. Apakah mereka pacaran ?. terus kalo memang pacaran, mengapa mereka harus sembunyi – sembunyi dari kami. Kami juga kan teman dekatnya, apa mungkin mereka tidak ingin ada yang mengetahuinya. Apa mungkin juga Dendy tidak ingin membuat teman – temannya sakit hati yang pernah mendekati Icha. Apa pemikiranku yang terlampau jauh, mungkin lebih jauh dari jembatan penyembrangan bussway di halte semanggi.
Kejadian itu terulang kembali ketika Icha dan Dendy ke Tangerang untuk bermain Futsal. Padahal gue sendiri tau, cuaca gak bagus banget. Icha juga udah gue kasih jadwal lembur di hari minggu karena dia sendiri yang memintanya. Gue berharap dia tidak ikut bersama Dendy untuk melihat permainan futsal di Tangerang. Icha sebelumnya bilang kalau akan ada yang bermain ke tempatnya, maka dari itu dia ingin tak ada di kontrakan minggu nanti. Sebelumnya gue gak ngeh sama apa yang Icha bicarakan. Setelah gue tau ternyata yang datang itu ternyata adalah gun2, dia sendiri datang ke kantorku ketika ku sedang lembur minggu lalu. Sontak saja gue kaget ngeliat dia ada disamping gue, “hai zoe,, apa kabar ?”, dia menyapaku. “baik, eh gimana kabar lu gun ?? dalam rangka apa ni ke sini ??”. tanya gue. “ya pengen maen aja, emang gak boleh ??, “ sindir dia dengan sedikit senyum di bibirnya.
Gue dan Gun pergi ke bioskop, cz ada film bagus tayang sore ini. Tiket filmpun sudah kami pesan, hanya tinggal theater dibuka saja. Tak cukup menunggu lama , theatre 2 sudah dibuka, masuk beramai – ramai bersama penonton lain.
Film tadi begitu bagus, karena di sutradarai oleh Tsui Hark dan pemeran utamanyapun jet-Li. Special efect lumayan bagus. Kami beranjak mencari mushola mall untuk sholat Ashar di lantar paling dasar. Lalu dilanjut dengan makan malam. Segala unek – unek gue tumpahin ketika gue makan bareng “teman lama” itu sebutanku terhadapnya, sehingga Dendy dan Icha pun selalu menyindirku dengan panggilan teman lama. Sebelum kami pulang, gue teringat akan buku yang gue pengen banget ketika awal keluar, akan tetapi gue gak sempet buat beli. Sebut saja “Manusia Setengah Salmon” by Raditya Dika. Komedian sekaligus penulis ini mengeluarkan buku terbarunya setelah, Kambing Jantan, Marmut Maerah Jambu, Babi Ngesot dan beberapa buku lainnya. Tapi sayang buku itu udah gue kasih ke Ami ( Yanria Rahma Utami ), karena dia juga menginginkan buku itu. Gue kasih buku itu dengan percuma ke dia.
Sebernya Amie pengennya sih 1 set boneka angry birds, tapi menurut gue harganya agak sedikit mahal untuk ukuran kantong gue. Ya akhirnya gue bilang ke Ami, Buku manusia setengah salmon gue kasih sebagi pengganti angry birds yang dia minta untuk kado ultahnya.

0 komentar: